Selasa, 18 November 2014

Seni Instalasi





DESAIN INSTALASI TAMAN KOTA SINGARAJA




Foto diambil dari kamera canon 600D
diafragma: 7,1 
iso: auto
speed: 1/60

gambar peri cinta
pensil warna Faber Castell
drawing pen 01
editing by photoshop cs 6
 
Foto dan gambar di atas merupakan desain untuk instalasi di taman kota Singaraja yang ingin saya tawarkan kepada dosen mata kuliah Intermedia semester 5 ( I Wayan Sudiarta, S.Pd., M.Si. dan Drs. Jajang Suryana M.Sn.) tahun 2014 demi kepentingan tugas intermedia.
Karya ini berupa patung yang berbahan dari barang-barang bekas bahkan juga dari sampah-sampah yang bisa dimanfaatkan. Bahan dasarnya terbuat dari berbagai sampah plastik makanan ringan kering yang kemudian dibalut dengan solasi bening dan Untuk mencari detail bentuknya saya menggunakan penempelan bahan sampah yang sama menggunakan lem sehingga membentuk anatomi yang diinginkan. Tidak perlu memperhatikan warna realis, karya ini hanya mengutamakan bentuk yang sempurna saja. Efek dari bahan bekas bungkus makanan ini akan menjadikan karya yang warna warni dan disitu letak  unik dan sisi estetiknya. Untuk kekuatan saya menggunakan besi kawat sebagai kerangka dasar didalamnya.
Nah, dari pemaparan di atas, kita berbicara tentang seni instalasi. Apa si yang dimaksud dengan seni instalasi…..??
Seni instalasi (installation = pemasangan) adalah seni yang memasang, menyatukan, dan mengkontruksi sejumlah benda yang dianggap bisa merujuk pada suatu konteks kesadaran makna tertentu. Biasanya makna dalam persoalan-persoalan sosial-politik dan hal lain yang bersifat kontemporer diangkat dalam konsep seni instalasi ini. Seni instalasi dalam konteks visual merupakan perupaan yang menyajikan visual tiga dimensional yang memperhitungkan elemen-elemen ruang, waktu, bahkan suara.
Dalam perkembangannya instalasi adalah sebuah bentuk karya seni yang lebih banyak membuat masyarakat kebanyakan merasa bingung ketimbang mampu menikmatinya, lebih lagi mengapresiasi dan mendapatkan suatu makna di dalamnya.
Seni instalasi kerap dipahami tak lebih dari sekadar pemandangan benda-benda yang dipajang dengan cara yang ganjil. Dari mulai ranjang bayi yang diberi rantai, mesin jahit yang berputar dengan jarum yang patah, hingga botol-botol kecil yang berisikan cairan dan ditulisi "sperma" serta di baringkan di atas tanah yang penuh dengan pecahan kaca.
Mungkin dengan cepat kita berpikir, kalau hanya bikin kayak begitu semua orang juga bisa! Dengan kata lain, kita akan lebih mudah menikmati keindahan sebuah patung dan relief, atau pesan semangat dari sebuah monumen ketimbang berhadapan dengan sebuah karya instalasi yang hanya membuat kening berkerut. Jangankan melihat bentuknya sebagai sebuah karya seni, mendengar namanya pun orang lebih banyak menghubungkannya dengan PLN!
Seperti artian harfiahnya (asal kata installation = pemasangan), seni instalasi memang merupakan seni yang memasang, menyatukan, dan mengkontruksi sejumlah benda yang diangkap bisa merujuk pada suatu konteks kesadaran makna tertentu. Biasanya makna dalam persoalan-persoalan sosial-politik.
Seni instalasi dalam konteks fenomena perkembangan kesenian, merujuk pada perkembangan seni rupa kontemporer yang tumbuh di negara-negara Barat sejak sekira periode 1970-an, meski gejala itu telah muncul pada pertengahan tahun 1960-an. Seni instalasi dalam sejumlah hal senantiasa dihubungkan dengan perkembangan filsafat dan teori pemikiran post-modern. Sebuah teori pemikiran yang merupakan perlawanan atau sikap kritis terhadap modernisme yang dianggap terlalu memuja ilmu pengetahuan dan sains, universalisme, serta mengabaikan lokalitas dan kemajemukan. Modernisme yang memitoskan rasio dianggap telah menjurumuskan umat manusia pada dua perang dunia yang menyesangsarakan.
Post-modern sebagai filsafat pemikiran akhirnya banyak mempengaruhi berbagai perkembangan kebudayaan, termasuk seni rupa. Dengan formalisme yang menjadi puncaknya --yang melulu hanya memikirkan pencarian bentuk-bentuk keindahan seperti pada gaya lukisan abstrak-- sehingga seni dipahami sebagai sesuatu yang otonom dan universal, lepas dari hubungannya dengan agama, tradisi, dan sosial-politik; modernisme dianggap telah menjauhkan seni dengan konteks realitas masyarakatnya. Di lain pihak, modernisme telah menyebabkan seni menjadi terkotak-kotak, seperti seni lukis, seni patung, seni grafis. Dan inilah yang lalu ditolak oleh seni-seni post-modern. Pencarian bentuk yang indah dan identifikasi-identifikasi seni tidak lagi menjadi perhatian. Bagi seni-seni post-modern, soalnya sekarang adalah bagaimana merepresentasikan seluruh gagasan dan mengkomunikasikannya pada publik.
Maka, seni-seni post-modern pun melabrak seluruh konvensi-konvensi seni modern. Dalam seni rupa, melukis bukan harus selalu di atas kanvas, melainkan juga bisa di atas aspal, bahkan kenyataan itu sendiri adalah kanvas yang bisa dilukisi. Demikian dengan seni patung yang melulu harus menggunakan bahan tanah liat, tapi juga tubuh si seniman itu sendiri. Dengan kata lain, seni post-modern telah melenyapkan batas antara seni lukis, keramik, patung, grafis, bahkan batasan antara seni rupa, musik, sastra, tari, dan teater, Seni bagi mereka telah menjadi keseluruhan yang sifatnya total.
perkembangan di Indonesia Banyak pendapat yang menyebut bahwa seni instalasi adalah bagian yang tak terpisahkan dari seni post-modern. Gejala kemunculan seni instalasi mulai dikenal di Indonesia paling tidak sejak munculnya apa yang disebut dengan Gerakan Seni Rupa Baru pada tahun 1975-1979, yang bertujuan meruntuhkan definisi seni rupa yang terkungkung oleh seni patung, lukis dan seni grafis, serta anti elitisme, seperti tampak karya-karya mereka, termasuk dalam bentuk seni instalasi. Perdebatan para seniman tentang seni post-modern dan seni instalasi mulai muncul pada tahun 1993-1994. Diawali dari perdebatan tentang apakah seni instalasi identik dengan seni rupa post-modern atau bukan, keberadaan seni instalasi lebih jauh kemudian dipertanyakan. Namun lepas dari itu maraknya seni instalasi dalam praktik-praktik kesenian di berbagai kota, menjadi soal tersendiri dalam hubungannya dengan apresiasi masyarakat. Terlebih tak jarang karya-karya itu dipamerkan di ruang-ruang publik.
Apakah seni instalasi itu sebenarnya? Apakah setiap orang bisa membuat seni instalasi?
Kedua pertanyaan itu memerlukan penjelasan yang lebih panjang. Namun yang jelas, seni instalasi tidaklah cukup hanya sekadar dilihat dari pajangan bentuknya. Sebab, ia menyimpan wacana pemaknaan, hubungannya dengan suatu konteks, termasuk dengan konteks biografi si seniman itu sendiri. Secara bentuk, setiap orang mungkin bisa membuatnya, tapi belum tentu ketika dilakukan pembacaan pada wacana pemaknaan, konteks dan hubungan benda-benda itu dengan biografi dirinya. "Seni instalasi tidak bisa kita cari dalam budaya dan seni tradisional masyarakat Indonesia, karena ia berasal dari paradigma dan teks budaya yang berbeda, yakni masyarakat post-kolonial di Barat," ujar kritikus seni Aminudin Th.Siregar.
Nah, kalau begitu, rasanya cukup jelas, mengapa seni instalasi sulit diapresiasi oleh masyarakat awam. Tapi sebagai sebuah karya seni, ia bukan berarti lalu harus ditolak.


Sumber referensi:

 

Selasa, 21 Oktober 2014

konsep tugas 2 intermedia (kota singaraja)



DIBALIK LANGKAH PEMBANGUNAN



Karya ini berjudul “Dibalik Langkah Pembungnan” karena dalam setiap perkembangan pembangunan suatu daerah, hampir semua bahkan seluruhnya tidak sadar dan melupakan orang-orang pinggiran. Ditengah pesatnya pertumbuhan kota, sedikit banyak pasti akan terjadi pola pikir dan perubahan gaya hidup manusia didalamnya. Bagi orang yang memiliki penghasilan menengah keatas tentu hal ini bukan masalah. Namun bagi orang yang masih memiliki masalah dengan ekonomi hal ini merupakan masalah besar yang mau tidak mau harus dijalaninya. Memang tidak terlihat dampak yang sangat signifikan akan tetapi lambat laun pasti orang-orang yang terpaksa menjalani hidupnya ditengah kerasnya kota akan berbuat apapun untuk bisa tetap hidup dan menghidupi keluarganya. Penyimpangan perilaku orang-orang kecil ini bisa saja terjadi karena tuntutan kehidupan tersebut.
            Selain itu pasti terjadi kesenjangan sosial apa bila pemerintah tidak memperhatikan rakyat kecil ini. Pemerataan tidak berjalan dengan semestinya dan pengangguran mungkin dan pasti bertambah. Pembangunan hanya milik segelintir kaum elit yang duduk manis diatas pertumbuhan kota, tanpa sadar penindasan orang-orang yang mestinya mendapat perhatian dan uluran tangan kita terjadi, hal ini juga dapat memicu timbulnya aksi-aksi anarki para pemuda-pemudanya. Kalau sudah para pemuda yang merupakan generasi penerus menjadi korban pembangunan, tentu bisa dipastikan akan muncul banyak dampak negatif yang terlahir karena hal tersebut.
            Singaraja kini sedang berkembang dan giat melakukan pembangunan, dengan karya ini saya bermaksud agar hal-hal negatif seperti diatas tidak terjadi pada kota Singaraja nantinya. Pemerintah Singaraja harus memikirkan rakyat kecil. dengan menambah lapangan pekerjaan, mensubsidi pendidikan dan kesehatan misalnya. Agar tercipta kehidupan yang harmonis tanpa ada kesenjangan sosial yang sangat jauh dan supaya semua orang penghuni singaraja bisa merasakan nikmatnya pembangunan secara keseluruhan. 
          patung kuda disingaraja saya pilih menjadi icon karena kuda merupakan simbol kekuasaan, kekuatan dan sekaligus keindahan. hal ini cocok untuk konsep karya ini untuk menceritakan bagaimana seharusnya sikap seorang pemimpin yang berkuasa memimpin dan mengayomi rakyatnya. 
          Objek bola lampu yang terdapat bias bayangan kota singaraja didalamnya merupakan pesan yang saya ingin sampaikan lewat karya ini. Maksudnya pembangunan di singaraja haruslah seperti bola lampu yang cahayanya  menyinari seluruh ruangan, artinya pembangunan disingaraja harus merata tidak hanya dipusat kota, di desa-desa pun juga harus terlaksana dengan baik, agar semua masyarakat kota singaraja dapat merasakan dan menikmati hasil perkembangan pembangunan yang terjadi.




Catatan
gambar latar (gedung)diambil dari https://acuteconsulting.files.wordpress.com/2014/09/nyc.jpg




Gambar objek patung kuda, Singaraja dari foto hasil kamera cannon 600D
  • Cannon 600D
  • Diafragma 7,1
  • Iso 100
  • Speed 1/125 sec
  • No flash
Editing by photoshop cs6