Sabtu, 29 Agustus 2015

tugas 1 profesi kependidikan



Oleh Herman Susanto
Profesi kependidikan
Profesi selalu identik dengan pekerjaan seseorang. Namun tidak semua pekerjaan bisa dikatakan profesi. Menurut Ornstein dan Levine (1984) menyatakan bahwa profesi itu adalah jabatanyang sesuai dengan pengertian profesi dibawah ini:
a)         Melayani masyarakat, merupakan karier yang akan dilaksanakan sepanjang hayat (tidak berganti-ganti pekerjaan)
b)         Memerlukan bidang ilmu dan keterampilan tertentu di luar jangkauan khalayak ramai (tidak setiap orang dapat melakukannya)
c)         Menggunakan hasil penelitian dan aplikasi dari teori ke praktek (teori baru dikembangkan dari hasil penelitian).
d)         Memerlukan pelatihan khusus dengan waktu yang panjang.
e)         Terkendali berdasarkan lisensi baku dan atau mempunyai persyaratan masuk ( untuk menduduki jabatan tersebut memerlukan izin tertentu atau ada persyaratan khusus yang ditentukan untuk dapat mendudukinya)
f)          Otonomi dalam membuat keputusan tentang ruang lugkup kerja tertentu (tidak diatur oleh orang luar)
g)         Menerima tanggung  jawab terhadap keputusan yang diambil dan unjuk kerja yang ditampilkan yang berhubungan dengan layanan yang diberikan (langsung bertanggung jawab terhadap apa yang diputuskannya, tidak dipindahkan ke atasan atau instansi yang lebih tinggi). Mempunyai sekumpulan unjuk kerja yang baku.
h)         Mempunyai komitmen terhadap jabatan dan klien dengan penekanan terhadap layanan yang akan diberikan.
i)           Menggunakan administrator untuk memudahkan profesinya, relatif bebas dari supervisi dalam jabatan (misalnya dokter memakai tenaga administrasi untuk mendata klien, sementara tidak ada supervisi dari luar terhadap pekerjaan dokter sendiri).
j)           Mempunyai organisasi yang diatur oleh anggota profesi sendiri
k)         Mempunyai asosiasi profesi dan atau kelompok ’elit’ untuk mengetahui dan mengakui keberhasilan anggotanya (keberhasilan tugas dokter dievaluasi dan dihargai oleh Organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI), bukan oleh Departemen Kesehatan).
l)           Mempunyai kode etik untuk menjelaskan hal-hal yang meragukan atau menyangsikan yang berhubungan dengan layanan yang diberikan.
m)      Mempunyai kadar kepercayaan yang tinggi dari publik dan kepercayaan diri setiap anggotanya (anggota masyarakat selalu meyakini dokter lebih tahu tentang penyakit pasien yang dilayaninya).
n)         Mempunyai Status sosial yang tinggi (bila dibanding dengan jabatan lainnya)

Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan. Guru adalah profesi yang paling penting terkait masalah pendidikan.

Sebagai guru yang berkompeten harus memiliki :
1. Pemahaman terhadap karakteristik peserta didik,
2. Penguasaan bidang studi, baik dari sisi keilmuan maupun kependidikan,
3. Kemampuan penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik,
4. Kemauan dan kemampuan mengembangkan profesionalitas dan kepribadian secara berkelajutan.

Guru juga dituntut agar bisa mengajar dengan baik guna menularkan ilmunya bagi peserta didik. Berikut kemampuan atau langkah-langkah yang harus dimiliki guru menurut prof. Dr. H. Hamzah B. Uno, M.Pd dalam bukunya PROFESI PENDIDIKAN.
  1. Merencanakan sistem pembelajaran
-          Merumuskan tujuan
-          Memilih prioritas materi yang akan diajarkan
-          Memilih dan menggunakan metode
-          Memilih dan menggunakan sumber belajar yang ada
-          Memilih dan menggunakan media pembelajaran
  1. Melaksanakan sistem pembelajaran
-          Memilih bentuk kegiatan pembelajaran yang tepat
-          Menyajikan urutan pembelajaran secara pepat
  1. Mengefaluasi sistem pembelajaran
-          Memilih dan menyusun jenis evauluasi
-          Melaksanakan kegiatan evaluasi sepanjang proses
-          Mengadministrasikan hasil evaluasi
  1. Mengembangkan sistem pembelajaran
-          Mengoptimalisasi potensi peserta didik
-          Meningkatkan wawasan kemampuan diri sendiri
-          Mengengbangkan program pembelajaran lebih lanjut

Dari pemaparan diatas diharapan mahasiswa yang merupakan calon guru benar-benar memperhatikan tugasnya sebagai profesi pendidik. Dengan demikian, juga dapat disimpulkan bahwa untuk menjadi guru professional yang memiliki akuntabilitas dalam melaksanakan kedua kompetensi tersebut, dibutuhkan tekad dan keinginan yang kuat dalam diri setiap calon guru atau guru untuk mewujudkannya.






Sumber

Uno, Hamzah B. 2007. Profesi Kependidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Soetjipto, dkk. 1994. Profesi Keguruan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
https://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan
diakses pada 28 agustus 2015 pukul 17:05

TUGAS 1 PENGEMBANGAN PESERTA DIDIK



Oleh Herman Susanto

Pengembangan peserta didik
Perkembangan (Development) merupakan suatu proses yang pasti di alami oleh setiap individu, perkembangan ini adalah proses yang bersifat kualitatif dan berhubungan dengan kematangan seorang individu yang ditinjau dari perubahan yang bersifat progresif serta sistematis di dalam diri manusia. Akhmad Sudrajat : 2008, memberikan definisi bahwa Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis, progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya.
Perkembangan peserta didik merupakan bagian dari pengkajian dan penerapan psikologi perkembangan yang secara khusus mempelajari aspek-aspek perkembangan individu yang berada pada tahap usia sekolah. Sebagai individu yang tengah tumbuh dan berkembang, peserta didik memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju kearah titik optimal kemampuan fitrahnya.

Mempelajari pengembangan peserta didik tentu memiliki manfaat bagi para pendidik dan juga bagi peserta didik itu sendiri.

  • Manfaat bagi pendidik
Memberikan gambaran tentang perkembangan manusia sepanjang rentang kehidupan beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya, yang meliputi aspek fisik, intelektual, emosi, dan moral. Manfaat lainnya ialah Memberi gambaran tentang bagaimana proses pembelajaran yang tepat sesuai dengan tahapan perkembangan peserta didik.

  • Manfaat bagi peserta didik
Memiliki pengetahuan tentang konsep-konsep perkembangan peserta didik sebagai indvidu maupun makhluk sosial dalam menjalani tahapan perkembangan dari prenatal hingga lanjut usia sehingga Mampu menerapkan pengetahuan yang dimiliki dalam proses pembelajaran sesuai dengan tahapan perkembangannya.

perkembangan peserta didik dapat dipengaruhi oleh factor internal dan Faktor eksternal. Yang dimaksud factor internal ialah faktor bilogis individu yang merujuk pada faktor genetik yang diturunkan oleh kedua orangtuanya namun Kondisi fisik yang yang tidak sempurna atau cacat juga berkaitan dengan persepsi individu terhadap kemampuan dirinya.  Begitupun ketidakmampuan intelektual dapat disebabkan karena kerusakan sistem syaraf, kerusakan otak atau mengalami retardasi mental.
Sedangkan yang dimaksud faktor eksternal ialah Lingkungan, mencakup kondisi keamanan, cuaca, keadaan geografis, senitasi atau kebersihan lingkungan.

Masa kanak-kanak telah menjadi masa yang begitu unik sehingga sulit untuk kita bayangkan bahwa masa tersebut adalah awal yang sangat menentukan  kualitas  seorang manusia Seiring berjalannya periode-periode perkembangan anak, kegiatan keseni rupaan pada anak juga ikut berkembang seiring berjalannya periode tersebut. Secara umum dapat dikatakan bahwa karya seni rupa anak bersifat ekspresif dan dinamis, Apa yang digambarkan anak mencerminkan pribadinya, mengungkapkan apa yang diketahuinya dan tidak menggambar sesuai dengan kenyataan. Penciptaan senirupa pada anak tentunya juga dipengaruhi oleh usia dan segala informasi yang ia dapat dari petualangan keingin tahuan yang tinggi dan bermainnya. jika kita amati) dalam perkembangan dunia kesenirupaan anak. Ada pentahapan atau periode dalam aktivitas kesenirupaannya.
Ø  Periode Perkembangan Seni Rupa anak-anak
Pengelompokan periodisasi karya seni rupa anak dimaksudkan agar kita mudah mengenali karakteristik perkembangan anak berdasarkan usianya. Dalam mengungkapkan gagasannya, anak masih memandang gambar sebagai satu ungkapan keseluruhan. Hal ini belum tampak bagian demi bagian secara rinci. Yang tampak hanyalah bagian-bagian kecil yang menarik perhatian, terutama yang menyentuh perasaan dan keinginannya.
Periodisai menurut Cyrl Burt (Lowenfeld, 1975: 118-119) Membagi periodisasi gambar menjadi tuju tingkatan, yaitu:
Masa mencoreng                    : 2 - 3 tahun
Masa garis                                : 4 tahun
Masa simbolisme deskriptif   : 5 - 6 tahun
Masa realisme deskriftif        : 7 - 8 tahun
Masa realisme visual              : 9 - 10 tahun
Masa represi                            : 10 – 14 tahun
Masa pemunculan artistic      : masa adolesen

Masa Corengan  dan masa garis
Masa corengan merupakan masa awal yang bisa dikaitkan dengan seni rupa. Semua anak manusia pasti melewati masa ini, Kesenangan membuat coretan-coretan di dinding atau media lain tumbuh pada anak-anak usia kurang lebih dua tahun. Goresan-goresan yang dihasilkan masih kasar dan tidak beraturan, kecenderungan anak usia 2 tahun ini menggoreskan pensil atau alat tulis lain pada bidang degan keras bahkan sampai-sampai sekuat tenaga tangan dan jari mereka. Hal ini dapat kita temukan anak yang melubangi atau melukai kertas yang digoresnya. Hal ini tentunya berkaitan dengan kemampuan motorik anak yang masih mengunakan motorik kasar. Kemudian, seiring perkembangan motorik anak berikutnya hasil corengan atau garis mulai beragam dengan arah yang bervariasi pula. Periode ini terbagi ke dalam tiga tahap, yaitu:
1.      corengan tak beraturan
tahap ini garis atau coretan yang dihasilkan anak tak beraturan. gambar yang terbentuk juga sembarangan, kecenderungan anak mencoreng tanpa alasan atau maksud membuat bentuk tertentu, anak-anak melakukan corengan hanya karena mereka mau dan senang melakukan hal yang baru dalam hidupnya.
2.      corengan terkendali
tahap ini anak mulai bisa mengendalikan motoriknya dengan lebih baik. Corengan yang dihasilkan sudah terkendali dan terlihat ada usaha dalam setiap tarikan garisnya. Hal ini terjadi karena adanya kerjasama antara  perkembangan visual dengan perkembamngan motorik. Hal ini terbukti dengan adanya pengulangan coretan garis baik yang horizontal , vertical, lengkung , bahkan lingkaran.
3.      corengan bernama
tahap ini adalah tahap terakhir dari  masa corengan & garis. Biasanya terjadi pada anak usia 3 sampai 4 tahun, corengan yang dihasilkn sudah berupa gambar atau bentuk-bentuk yang sudah akrab dengan mereka. Seperti mobil, rumah, ayah, ibu, kakak dll. Dan seiring perkembangan bahasa, visual motoriknya anak juga dapat menyebutkan apa yang dia buat. Anak mulai menyadari hubungan gambar dengan lingkungannya bentuk, warna dan bahkan suatu kejadian juga mulai muncul dalam karya anak. disinilah tugas guru dan orang tua untuk membina mereka agar mengenal warna, bentuk dan peristiwa-peristiwa dilingkungannya.

Masa simbolisme deskriptif
Pada masa ini anak sudah mengenal bentuk lebih banyak dan perkembangan motoriknya juga semakin bagus perpaduan antara visual dan motrik akan berpengaruh dalam karyanya di masa ini. Gambar yang dihasilkan sudah menunjukkan keseriusan dalam usaha mencapai bentuk-bentuk tertentu. Tapi gambar masih tetap berkesan datar dan belum bisa mengukur perbandingan ukuran objek satu dengan yang lainnya. Masa ini biasanya terjadi usia 5 sampai 6 tahun Pada perkembangan selanjutnya kesadaran ruang muncul dengan dibuatnya garis pijak (base line). Hasil karya anak-anak itu disebutnya gambar fisioplastik. Anak yang belum berumur 8 tahun belum mampu menggambar apa yang dilihatnya tetapi mereka menggambar maenurut apa yang sedang dipikirkannya. Hasil karya mereka itu disebut gambar ideoplastik.
Pada masa ini juga, kadang-kadang dalam satu bidang gambar dilukiskan berbagai peristiwa yang berlainan waktu. Hal ini dalam tinjauan budaya dinamakan continous narrative, anak sudah bisa memahami ruang dan waktu. Objek gambar yang dilukiskan banyak dan berulang menggambarkan sedang dilakukan.

Masa realisme deskriftif
Dimasa ini karya anak lebih menyerupai kenyataan. Kesadaran perspektif mulai muncul, namun berdasarkan penglihatan sendiri. Mereka menyatukan objek dalam lingkungan. Selain itu kesadaran untuk berkelompok dengan teman sebaya dialami pada masa ini. Perhatian kepada objek sudah mulai rinci. Namun dalam menggambarkan objek, proporsi (perbandingan ukuran) belum dikuasai sepenuhnya. Pemahaman warna sudah mulai disadari. Penguasan konsep ruang mulai dikenalnya sehingga letak objek tidak lagi bertumpu pada garis dasar, melainkan pada bidang dasar sehingga mulai ditemukan garis horizon. Selain dikenalnya warna dan ruang, penguasaan unsur desain seperti keseimbangan dan irama mulai dikenal pada periode ini. Ada perbedaan kesenangan umum, misalnya: anak laki-laki lebih senang kepada menggambarkan kendaraan, anak perempuan kepada boneka atau bunga. Dalam masa ini anak sudah mulai bisa menangkap objek yang ingin digambarnya mereka mampu menggambar bentuk apa yang dilihatnya.
Masa realisme visual
pada usia anak antara 9 sampai 10 tahun anak mulai memiliki kemampuan berfikir abstrak serta kesadaran sosialnya makin berkembang. Perhatian kepada seni mulai kritis, bahkan terhadap karyanya sendiri. Pengamatan kepada objek lebih rinci. Tampak jelas perbedaan anak-anak bertipe haptic dengan tipe visual. Tipe visual memperlihatkan kesadaran rasa ruang, rasa jarak dan lingkungan, dengan fokus pada hal-hal yang menarik perhatiannya. Penguasaan rasa perbandingan (proporsi) serta gerak tubuh objek lebih meningkat. Tipe haptic memperlihatkan tanggapan keruangan dan objek secara subjektif, lebih banyak menggunakan perasaannya. Gambar-gambar gaya kartun banyak digemari. Ada sesuatu yang unik pada masa ini, di mana pada satu sisi anak ekspresi kreatifnya sedang muncul sementara kemampuan intelektualnya berkembang dengan sangat pesatnya. Sebagai akibatnya, rasio anak seakan-akan menjadi penghambat, Kekawatiaran tentang penilaian orang tentang karyanya mulai tumbuh sehingga akibatnya mereka cenderung malu memperlihatkan karyanya.
Masa represi
masa ini biasanya terjadi penurunan minat menggambar. Sebagian anak mulai melirik dunia baru yang ditemuinya disekolah, lingkungan, ahkan dalm keluarga itu sendiri. Pencarian identitas dan kebebasan adalah ciri utama dari masa ini. Makin banyak waktu yang dihabiskan diluar keluarga atau rumah. Pikiran menjadi abstrak, idealis dan logis. Namun bagi sebagian anak yang memiliki kesenangan dalam senirupa, masa ini juga tidak terlalu berpengaruh terhadap pengembangannya di seni rupa. Dan dalam masa ini juga mulai nampak perbedaan antara anak-anak yang memiliki bakat dan tidak memiliki bakat dalam seni rupa.
Masa pemunculan artistic
Dimasa ini anak dihadapkan pada pilihannya mengenai jati dirinya. Dibalik temuan-temuannya diluarsana mengenai kehidupan masa depan juga akan berpengaruh terhadap pilihannya nanti. Rasional anak pada masa ini sudah bisa dan mampu memilah apa-apa yang ia anggap baik bahkan dalam usia ini seorang anak sudah pantas ditanyakan pendapatnya tentang rapat kecilyang terjadi di keluarga atau sekolah. Masa ini anak juga mulai menyadari kemampuan diri sendiri dalam berkeseni rupaan. Anak yang berbakat cenderung akan melanjutkan kegiatannya dengan rasa senang, tetapi yang merasa tidak berbakat akan meninggalkan kegiatan seni rupa, apalagi tanpa bimbingan. Dalam hal ini peranan guru banyak menentukan, terutama dalam meyakinkan bahwa keterlibatan manusia dengan seni akan berlangsung terus dalam kehidupan. Seni bukan urusan seniman saja, tetapi urusan semua orang dan siapa pun tak akan terhindar dari sentuhan seni dalam kehidupannya sehari-hari.
Sebagai mahasiswa Senirupa sekaligus sebagai calon guru Senirupa diindonesia harus mengetahui perkembangan seni rupa pada peserta didik guna menjadikan pengetahuan ini sebagai acuan untuk menangani atau membimbing peserta didik di berbagai usia dalam urusan seni rupa tentunya.

Sumber
Santrock, John W, 2007, Perkembangan Anak, edisi kesebelas,Penerbit Erlangga
Hurlock, Elizabeth B, 1978, Perkembangan Anak, edisi keenam, Penerbit Erlangga
Papalia, Diane E, sally wendkos Old & Ruth Duskin Feldman, 2008, Human Development (psikologi perkembangan) edisi kesembilan, KENCANA Prenada Media Goup